Merakit Identitas Bangsa Yang Kian Rapuh

Merakit Identitas Bangsa Yang Kian Rapuh

dok potretbangsa.com

potretbangsa.com – Sebagai bangsa besar yang pernah menguasai hampir semua kawasan ASEAN di masa lalu, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam percaturan geo politik global. Letaknya yang cukup strategis, diantara dua Benua dan dua Samudera, menjadikan Indonesia salah satu negara di dunia yang selalu terlibat dalam proses dialektika peradaban bangsa-bangsa.

Fakta bahwa hingga kini bangsa ini masih eksis dan ada, merupakan bentuk nyata dari sebuah identitas kebangsaan yang kokoh. Indonesia beserta keragaman dan seluruh suku bangsa yang ada di dalamnya, memiliki karakter dan kemerdekaan yang utuh.

Karakter khas timur yang dimiliki bangsa ini, Budaya malu, budaya sopan santun, budaya toleransi, budaya saling menghargai, andap ashor antara yang tua dan muda, hingga budaya musyawarah mufakat, telah menghadirkan identitas kebangsaan, yang berujung pada eksistensi sebuah bangsa.

Sedikit Menengok Masa lalu Kejayaan Nusantara

Seperti yang tercatat dalam sejarah, Dimasa lalu, bangsa ini pernah mengalami akulturasi atau persilangan budaya dengan peradaban asing. Pertama, terjadi pada kisaran abad 7-8 masehi.

Akibat gejolak di negeri Bharata Hindustani (India) yang memaksa Suku Saka, sebuah ras ksatria penguasa Hindu India, datang ke Nusantara akibat negerinya kalah perang dengan bangsa Mongolia.

Sebagai negeri yang terkenal subur dan kaya rempah, Nusantara atau yang dulu dikenal dengan Swarnabumipala, menjadi tujuan favorit para pelarian perang ini.  Sikap toleransi warga pribumi, membuat kaum Saka leluasa hidup dengan tenang dan damai.  Sehingga, beberapa abad berikutnya, pelarian yang notabene kaum ningrat di India tersebut, mampu mempengaruhi para penguasa pribumi.

Sedikit demi sedikit, budaya dan karakter bangsa ini mulai bergeser, hingga menciptakan peradaban yang berkiblat ke India (baca; Micael Munos, the early kingdoms in indonesia archipelago and malaya peninsula). Dari persilangan peradaban dan budaya yang pertama ini, di Nusantara lahirlah beberapa kerajaan, tiga kerajaan diantaranya adalah yang terbesar dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. Yakni, Kerajaan Mataram Kuno, Sriwijaya dan Majapahit.

Kehadiran para ulama’ dari Persia dan Timur Tengah di masa sesudahnya (sekitar abad 11-12 m), juga sangat berpengaruh pada peradaban bangsa ini.  Masa ini merupakan masa kedua, persilangan budaya di Nusantara.

Dalam dunia teologi, pengaruh kedatangan mereka membuat masyarakat pribumi  mulai meninggalkan politheisme (kepercayaan kepada banyak Tuhan/Dewa). Mereka  mulai mengenal ajaran Islam yang dibawa para pendatang tersebut yang kebanyakan adalah kaum pedagang . Dari sisi kasusasteraan juga ada perbedaan dengan masa hindu (India). Itu terlihat dari banyaknya cerita pewayangan, yang di duga telah banyak digubah, dan dimasukkan unsur – unsur ajaran Islam. Terlebih setelah Wali Songo mulai berkiprah di tanah Jawa.

Yang menjadi catatan penting adalah, Proses akulturasi budaya dan peradaban di dua zaman tersebut terbilang cukup mulus dan dapat diterima kaum pribumi. Berbeda dengan masa-masa berikutnya. Yakni era Kolonialisme, yang ditandai dengan munculnya Verenigde Oost-Indische Compagnie – VOC (Perkumpulan Dagang India Timur) di Nusantara Pada 20 Maret 1602.

Mengenal VOC, Cikal Bakal Kolonialisme di Bumi Pertiwi

Di era ini, Eropa tengah mengalami krisis ekonomi dan sumber daya alam. Bahkan, di benua biru juga mengalami kemerosotan moralitas, akibat sering terjadinya peperang antar bangsa, sampai terjadinya perang salib. Sikap otoriter dan semakin beraninya dewan gereja memasuki ranah publik, juga membuat suasana di Eropa tidak stabil. Dalam filsafat, era ini dikenal dengan istilah “Abad Pertengahan”.

Kondisi tersebut, membuat negara-negara di Eropa berlomba mendapatkan daerah baru yang memiliki sumber – sumber ekonomi seperti palawija, cengkeh dan segala jenis bahan pangan lainnya, untuk diangkut dan dibawa kenegaranya yang tengah krisis.

Kondisi ini, membuat persaingan sengit di antara negara-negara Eropa tak terhindarkan. Diantaranya yaitu Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, Perancis dan Belanda, dalam memperebutkan hegemoni perdagangan di Asia Timur.

Untuk menghadapai masalah ini, oleh Staaten Generaal di Belanda, VOC diberi wewenang memiliki tentara dan harus membiayai sendiri gerakannya. Selain itu, VOC juga diberi hak, atas nama Pemerintah Belanda (yang waktu itu masih berbentuk Republik) untuk membuat perjanjian kenegaraan, dan dapat menyatakan perang terhadap suatu negara.

Wewenang ini yang mengakibatkan,VOC, yang pada dasarnya adalah perkumpulan dagang, dapat bertindak layaknya satu negara. Konspirasi macam apa gerangan dimasa itu ya..heuheu..

Perusahaan ini mendirikan markasnya di Batavia (sekarang Jakarta) di pulau Jawa. Pos kolonial lainnya juga didirikan di tempat lainnya di Hindia Timur, seperti di Grisse atau Gresik, di kepulauan rempah-rempah (Maluku), termasuk Kepulauan Banda, di mana VOC manjalankan monopoli atas pala dan fuli.

Dalam melakukan aksi monopolinya, VOC menggunakan Metode intimidatif, termasuk kekerasan terhadap masyarakat pribumi, bahkan tak segan-segan melakukan pemerasan dan pembunuhan massal.

Tahun 1603 VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan. Dan pada tahun 1610, Pieter Both, diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama (1610-1614), dan memilih Jayakarta sebagai basis administrasi VOC. Sementara itu, Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605 – 1611) dan setelah itu menjadi Gubernur untuk Maluku (1621 – 1623).

Hampir 350 tahun bangsa ini kehilangan peran untuk menentukan nasibnya akibat penjajahan. Meski demikian, Identitas dan budaya khas bangsa ini masih kokoh dan kuat.
Bahkan ,di akhir masa kolonialisme, era sebelum kemerdekaan, masyarakat pribumi memunculkan sentimen terhadap cara, pola dan prilaku para kolonialis. Sampai-sampai gaya berpakaian pun tidak mau meniru, dan warga pribumi tetap memilih menggunakan busana khas pribumi.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa, selama 350 tahun Belanda menjajah negeri ini, mereka gagal menghadirkan persilangan budaya, seperti pada dua masa sebelum nya. Kolonialis Belanda malah mendapat gejolak perlawanan dimana-mana, meski bersifat primordialisme. (bersambung/ika hidayat)

Leave a Comment