Inilah Kisah Balita Korban Malpraktik di Gresik

02784.MTS_000009536GRESIK, Potretbangsa.com – Muhammad Gathfan Habibi, terbaring lemah dengan mata terkatup tak sadarkan diri di ruang ICU RSUD Ibnu Sina, Di lengan dan beberapa bagian tubuhnya, nampak selang infus tertempel.

Sudah 47 hari, Anak usia 5 tahun pasangan Pitono dan Setyawati, warga desa Sumber, Kecamatan Kebomas ini, mengalami koma, dan membuat seluruh keluarga sedih dan khawatir.

selama 47 hari, setelah menjalani operasi pengangkatan tumor di di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSAI) Nyai Ageng Pinatih Gresik.

Kejadian tragis ini bermula, saat balita yang masih duduk di kelas B TK Bhakti 5 Gresik Kota Baru ini, mengaku kesakitan pada paha atas kanan.

Oleh orang tuanya, Habibi yang masih duduk di kelas B TK Bhakti 5 Gresik Kota Baru akhirnya diperiksakan di poli anak RSUD Ibnu Sina Gresik pada tanggal 7 April 2014. Dari hasil yang didapatkan melalui uji laboratorium, paha Habibi dinyatakan ada spindle tumor. Dan harus segera dilakukan operasi.

Orang tua Habibi tidak langsung mengobati anaknya, tapi masih menunggu reaksi atas penyakit tersebut. Namun saat Pitono jalan -jalan di jalan Panglima Sudirman Gresik, dia melihat ada praktik dokter bedah Yanuar Sham, pada 24 Desember 2014 orang tua Habibi melakukan konsultasi dengan dokter Yanuar Sham. Dari hasil konsultasi, disimpulkan Habibi harus dioperasi.

“Dokter Yanuar Sham menyarankan untuk operasi di rumah sakit RSIB Nyai Ageng Pinatih. Saat itu dokter Yanuar menyarakan untuk di Pinatih, karena dia sudah biasa disana,” ujar Pitono sedih.

Sebenarnya Pitono meminta operasi dilakukan di RS Semen Gresik atau di RS Petrokimia Gresik, namun menurut pengakuan Pitono, dokter Yanuar tidak punya jadwal praktik di kedua rumah sakit tersebut.

Pada 2 Januari 2015 Habibi masuk ke rumah sakit Nyi Ageng Pinatih pada pukul 11.00 Wib, namun operasi dilakukan pada pukul 14.00 Wib. Operasi berjalan hingga satu jam sehingga pukul 15.00 Wib Habibi sudah keluar dari ruang operasi.
Menurut Pitono, anaknya tidak langsung dibawah ke kamar rawat inap, tapi diletakkan dilorong ruangan.

Sementara itu ibu Habibi, Setyawati hanya bisa melihat sang anak dari kejahuan karena tidak diperkenankan untuk mendekat. Karena tidak tega melihat anaknya tergeletak sendirian, Setiyawati akhirnya nekat mendekati anaknya.

Setiyawati terkejut melihat tangan anaknya membiru, Setiyawati akhirnya teriak-teriak meminta tolong. Akhirnya anaknya dibawah ke ruang observasi untuk dilakukan tindakan medis.

Hingga larut malam keadaan Habibi tidak membaik, akhirnya diputuskan untuk dibawah ke RSUD Ibnu Sina Gresik pada pukul 3 dini hari. Habibi langsung dimasukkan di ruang ICU.

Sementara itu, pihak RSIA Nyai Ageng Pinatih yang diikonfirmasi menolak untuk memberikan tanggapan. Direktur RSIA Nyai Ageng Pinatih dr Achmad Zayadi yang dikonfirmasi melalui ponsel dan SMS tidak menjawab. Bahkan, saat ditemui dikantornya Jalan KH Abdul Karim Terate menolak menemui.

“Bapak sedang rapat. Mohon tinggalkan nomor ponselnya, nanti bapak yang menghubungi sendiri,” kata Sekar, staf resepsionis RSIA Nyai Ageng Pinatih.(*)

Leave a Comment